Language Discussion Forum Fakultas Syariah Bahas Peran Bahasa Internasional dalam Kolaborasi SDGs dan Isu Perubahan Iklim
Langsa, 22 September 2026 Relawan Bahasa Internasional (RBI) Fakultas Syariah IAIN Langsa menyelenggarakan Language Discussion Forum (LDF) dengan tema Sustainable Development Goals 17 (Partnership for Goals): The Importance of an International Language for Collaboration.Kegiatan berlangsung secara hybrid, secara luring di Aula SBSSN IAIN Langsa dan secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (22/9/2026) tersebut menghadirkan Namira Samir, Ph.D. dan Yasir Ibrahim, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai pemateri. Kegiatan dipandu oleh Raudhatul Hurrin sebagai moderator dan Vania Aula Cinta sebagai host. Sementara itu, Nawafiel Afclaruq Ahmad Nst bertindak sebagai ketua panitia.
LDF tahun ini mengangkat isu Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya keterkaitan antara kemampuan berbahasa internasional, kolaborasi lintas lembaga, dan kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan berkelanjutan. Materi Namira Samir menguraikan SDGs sebagai agenda global yang terdiri atas 17 tujuan dan 169 target yang diadopsi negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2015 dengan orientasi pencapaian pembangunan hingga 2030.
Dalam pemaparannya, Namira Samir membahas bagaimana berbagai ketidakpastian global dapat memengaruhi pencapaian SDGs, antara lain konflik dan ketidakstabilan geopolitik, perubahan iklim dan bencana alam, guncangan ekonomi dan keuangan, perubahan politik serta kebijakan, dan lemahnya institusi. Menurut materi tersebut, berbagai guncangan dapat menyebabkan kemunduran capaian pembangunan, sementara kelompok masyarakat paling rentan sering menjadi pihak yang paling terdampak.
Salah satu contoh yang dibahas adalah bencana banjir dan longsor di Aceh. Materi mencatat bahwa bencana banjir dan longsor pada 2025 berdampak besar terhadap masyarakat Aceh, termasuk kerusakan rumah, jalan, mata pencaharian, sekolah, serta akses kesehatan. Materi tersebut juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur yang tangguh, perlindungan wilayah aliran sungai, pemulihan daerah tangkapan air, serta kesiapsiagaan bencana di tingkat lokal.
Namira juga mengarahkan mahasiswa untuk tidak berhenti pada kepedulian terhadap persoalan pembangunan, tetapi mengubah kepedulian tersebut menjadi kontribusi nyata. Beberapa hal yang ditekankan adalah meningkatkan pemahaman mengenai keuangan publik, membangun sikap ambisius tetapi realistis, memperbanyak membaca dan menulis, serta berdialog dengan pembuat kebijakan, peneliti, dunia usaha, NGO, dan profesional pembangunan.
Sementara itu, materi Yasir Ibrahim, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengangkat keterkaitan antara kemampuan bahasa dengan perkembangan fungsi mental dan sosial manusia. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai salah satu penanda perkembangan fungsi mental yang lebih tinggi. Penggunaan bahasa melibatkan kesadaran, pengendalian diri, pemilihan kata, kemampuan berpikir abstrak, serta proses pembentukan makna melalui interaksi sosial.
Dalam perspektif Vygotsky yang dibahas dalam materi, bahasa merupakan salah satu bentuk higher mental function yang berkembang melalui proses sosial dan kemudian terinternalisasi menjadi kemampuan individual. Bahasa berfungsi sebagai sarana mediasi simbolik, pengendalian diri, abstraksi dan generalisasi, serta membantu manusia mengarahkan pikiran dan tindakannya.
Materi tersebut juga menekankan bahwa bahasa selalu memiliki dimensi sosial. Kemampuan berbahasa berkembang melalui interaksi, membawa nilai dan pengetahuan antargenerasi, serta berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami perspektif orang lain, melakukan negosiasi makna, dan berpartisipasi dalam diskursus bersama.
Bahasa Internasional sebagai Jembatan Kolaborasi
Khairul Fuady, M.Sc., selaku pembina Relawan Bahasa Internasional Fakultas Syariah, menjelaskan bahwa pengangkatan tema SDGs dalam LDF tahun ini tidak terlepas dari perhatian terhadap tantangan pencapaian SDG 13 (Climate Action) di Indonesia.
Menurutnya, berbagai fenomena yang berkaitan dengan perubahan iklim dan dampak pemanasan global semakin penting untuk diperhatikan, mulai dari munculnya siklon di kawasan yang relatif dekat dengan garis khatulistiwa, banjir, longsor, hingga kebakaran hutan dan lahan.
âMahasiswa, khususnya aktivis bahasa internasional, dapat memainkan peran dengan membangun kolaborasi bersama NGO dan lembaga-lembaga PBB untuk turut menyuarakan isu climate change. Karena itu, penguasaan bahasa internasional tidak hanya penting untuk komunikasi, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam jejaring kolaborasi global,jelas Khairul Fuady.
Ia menambahkan bahwa SDG 17 tentang Partnership for the Goals menjadi relevan karena persoalan pembangunan berkelanjutan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, NGO, komunitas masyarakat, dan lembaga internasional membutuhkan kemampuan komunikasi lintas bahasa dan lintas budaya.
Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Syariah IAIN Langsa, Dr. Yaser Amri, MA, memberikan dukungan terhadap upaya RBI membangun jejaring kerja sama dengan berbagai NGO yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan, terutama organisasi yang berada di kawasan sekitar Aceh dan Asia Tenggara.
Dukungan tersebut sekaligus memperkuat arah RBI Fakultas Syariah untuk menjadikan bahasa internasional sebagai instrumen pengembangan jejaring, bukan sekadar kemampuan linguistik. Penguasaan bahasa diharapkan dapat membantu mahasiswa memasuki ruang dialog yang lebih luas dengan lembaga, komunitas, dan organisasi yang bergerak dalam isu pembangunan berkelanjutan.
Dua Sesi: Presentasi dan FGD
Secara keseluruhan, kegiatan LDF berlangsung dalam dua bagian. Sesi pertama dilaksanakan mulai pukul 09.00 hingga 12.30 WIB dalam bentuk presentasi dan diskusi bersama dua narasumber.
Namira Samir, Ph.D. merupakan alumni program doktoral University of Manchester dan memiliki pengalaman profesional di UNICEF. Dalam sesi ini ia memaparkan Shaping a Sustainable Future: Student Contributions to the SDGs in an Uncertain World. Materinya membahas perkembangan SDGs, berbagai ketidakpastian global, peran institusi dalam pembangunan berkelanjutan, serta ruang kontribusi mahasiswa.
Sementara itu, Yasir Ibrahim, S.Psi., M.Psi., Psikolog, akademisi dan psikolog Aceh, membahas âLanguage Proficiency as an Indicator of Higher-Order Mental and Social Functioning.â Materi tersebut menghubungkan kemampuan bahasa dengan fungsi kognitif dan kematangan sosial, sekaligus menegaskan bahwa bahasa berkembang melalui interaksi sosial dan menjadi jembatan antara individu, budaya, pikiran, dan tindakan.
Sesi kedua dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) pada pukul 13.0013.30 WIB. FGD mengangkat kasus pengelolaan sampah di gampông yang berorientasi pada visi SDGs. Peserta diajak mendiskusikan persoalan lingkungan pada tingkat komunitas serta kemungkinan membangun pendekatan kolaboratif yang melibatkan masyarakat, mahasiswa, pemerintah gampông, organisasi lingkungan, dan jejaring lainnya.
Melalui kegiatan tersebut, RBI Fakultas Syariah IAIN Langsa berupaya memperluas pemahaman bahwa kemampuan bahasa internasional dapat menjadi modal sosial bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam isu-isu global. Sebagaimana ditekankan dalam materi LDF, pembangunan berkelanjutan membutuhkan warga yang terinformasi, institusi yang kuat, serta kontribusi masyarakat yang mampu mengubah kepedulian menjadi tindakan.
Humas Fak.Syariah
