Fakultas verified Terverifikasi

Shalawat Merdu, Pengungsi Masih Menunggu: Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa Soroti Makna Maulid Pascabencana

account_balance
Humas Fakultas
Redaksi Warta Syariah
calendar_today Minggu, 13 September 2026 visibility 15 tayangan
Shalawat Merdu, Pengungsi Masih Menunggu: Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa Soroti Makna Maulid Pascabencana
DOKUMENTASI RESMI 13 September 2026
photo_camera Dokumentasi — Langsa — Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa, Muhammad Rusdi bin Muhammaddiah, Lc., M.A., menyoroti pentingnya menghadirkan kepedulian sosial dalam pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad...

Langsa — Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa, Muhammad Rusdi bin Muhammaddiah, Lc., M.A., menyoroti pentingnya menghadirkan kepedulian sosial dalam pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad saw., khususnya di tengah kondisi masyarakat Aceh yang masih menghadapi dampak bencana banjir dan longsor.

Melalui tulisannya yang berjudul “Shalawat Merdu, Pengungsi Masih Menunggu: Maulid Aceh Jangan Berhenti di Panggung”, Muhammad Rusdi mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan Maulid sekadar momentum seremonial, tetapi juga sebagai sarana membangun kepedulian dan aksi nyata bagi masyarakat yang masih terdampak bencana.

Menurutnya, gema shalawat, zikir, dan doa memiliki nilai penting dalam kehidupan spiritual masyarakat. Namun, nilai tersebut akan semakin bermakna apabila diwujudkan dalam bentuk kepedulian kepada sesama, terutama kepada keluarga yang masih berada di pengungsian, kehilangan tempat tinggal, serta menghadapi ketidakpastian kehidupan pascabencana.

Ia mengungkapkan bahwa sejumlah kegiatan Maulid di Aceh pada Desember 2025 telah menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan beriringan dengan aksi kemanusiaan. Beberapa kegiatan Maulid dirangkaikan dengan doa bagi korban bencana, penyaluran makanan, serta penggalangan donasi bagi masyarakat terdampak. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Maulid dapat berkembang menjadi gerakan sosial, bukan hanya perayaan keagamaan.

Muhammad Rusdi menegaskan bahwa meneladani Nabi Muhammad saw. tidak cukup hanya dengan memperbanyak pujian dan kegiatan seremonial. Keteladanan Nabi juga tercermin melalui kepedulian terhadap masyarakat yang lemah dan mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Karena itu, menurutnya, peringatan Maulid seharusnya melahirkan konsekuensi sosial berupa tindakan nyata.

Dalam perspektif fikih, ia juga mengingatkan pentingnya menghilangkan kemudaratan dan mendahulukan kebutuhan yang lebih mendesak. Dalam konteks pascabencana, membantu masyarakat yang membutuhkan makanan, obat-obatan, pakaian, dan tempat tinggal menjadi bentuk kepedulian yang sangat penting.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika hujan reda atau ketika masa tanggap darurat berakhir. Kerusakan infrastruktur, terganggunya pendidikan, hilangnya mata pencaharian, dan persoalan sosial lainnya membutuhkan perhatian dalam jangka panjang. Karena itu, kepedulian masyarakat harus tetap dijaga meskipun perhatian publik dan kamera media telah beralih.

Ia juga mendorong negara, ulama, lembaga pendidikan keagamaan, dan masyarakat sipil untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Pemerintah diharapkan memastikan logistik, akses, serta pemulihan infrastruktur berjalan dengan baik. Sementara itu, ulama dan lembaga pendidikan keagamaan dapat mengarahkan kegiatan Maulid menjadi ruang untuk menggalang bantuan, mendampingi pengungsi, merawat anak-anak korban bencana, serta memastikan bantuan tersalurkan secara tepat sasaran.

Menurut Muhammad Rusdi, spiritualitas dan ikhtiar tidak seharusnya dipertentangkan. Doa dan shalawat tetap penting untuk memberikan ketenangan dan menjaga harapan masyarakat. Namun, ketenangan tersebut harus melahirkan tindakan nyata. Ia menggambarkan iman yang hidup sebagai dua kaki: satu kaki berada di sajadah dan satu kaki berada di lapangan.

Untuk itu, ia menawarkan sejumlah langkah konkret. Pertama, setiap kegiatan Maulid pascabencana dapat dilengkapi dengan “pos kepedulian”, seperti dapur umum, paket sembako, bantuan pendidikan bagi anak-anak, atau kegiatan membersihkan lingkungan terdampak bencana. Kedua, kepedulian harus dijaga secara berkelanjutan, bukan hanya ketika bencana menjadi perhatian publik.

Ketiga, nilai spiritualitas perlu dihubungkan dengan upaya mitigasi bencana. Doa keselamatan harus berjalan bersama dengan kepedulian terhadap lingkungan, pengelolaan drainase, perlindungan kawasan hulu, serta kepatuhan terhadap sistem peringatan dini. Keempat, keberhasilan Maulid juga dapat dilihat dari manfaat nyata yang dirasakan oleh masyarakat.

Di akhir tulisannya, Muhammad Rusdi mengajak masyarakat Aceh untuk terus mengumandangkan shalawat sekaligus menghadirkan kepedulian dalam bentuk tindakan. Menurutnya, cinta kepada Nabi Muhammad saw. semestinya berjalan seiring dengan cinta kepada sesama, khususnya mereka yang masih mengalami penderitaan akibat bencana.

“Shalawat tetaplah dikumandangkan. Namun, biarkan shalawat itu memiliki tangan,” demikian pesan yang menjadi inti gagasannya: bahwa Maulid hendaknya tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi gerakan kemanusiaan yang meninggalkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Topik Terkait:
shield_person
Tim Redaksi Warta Syariah IAIN Langsa
Penulis: Humas Fakultas

Diterbitkan secara resmi oleh Bagian Hubungan Masyarakat dan Pengelolaan Portal Informasi Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Langsa.

check_circle Terverifikasi Humas arrow_back Kembali ke Beranda